Minggu, 02 Agustus 2009

Lobi Yahudi dan Liberalisme di Indonesia

Klik situs www.libforall.org. Banyak informasi tentang pemikiran dan gerakan liberalisasi yang bisa kita petik dari situs satu lembaga yang secara terbuka mengusung nama “liberal untuk semua” ini. Jumat pagi (20/2/2009), situs ini masih memampang catatan prestasi LibForAll dalam menjalankan misinya di Indonesia. Berbeda dengan sejumlah lembaga pendukung Yahudi dan Israel lainnya, organisasi ini pun tidak segan-segan dan malu-malu untuk menunjukkan dukungannya kepada Israel. Berbagai aktivitas dilakukan untuk membuat membangun gambaran positif tentang negara Zionis Israel.

Disebutkan dalam situsnya, pada 12 Juni 2007, LibforAll menyelenggarakan konferensi keagamaan di Bali, yang disebutnya sebagai “a historic religious summit in Bali”. Konferensi ini dibuat dengan tujuan menegaskan terjadinya peristiwa holocaust (pembantaian terhadap Yahudi di Eropa), mempromosikan toleransi beragama, dan menyingkirkan ideologi kebencian.

Pelaksana Konferensi adalah organisasi bernama Simon Wiesenthal Center yang merupakan partner LibForAll. Acara dibuka oleh pidato mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid yang isinya mengecam keras penolakan terhadap peristiwa holocaust. LibForAll menulis, bahwa acara itu diliput ratusan media di berbagai penjuru dunia. Pesan yang disampaikan kepada dunia jelas, bahwa sebagai satu negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia menolak pemikiran-pemikiran yang mendiskreditkan Yahudi dan Israel.

Peristiwa holocaust memang menjadi salah satu tonggak penting berdirinya negara Israel. Selama puluhan tahun, kaum Yahudi berusaha keras untuk mencitrakan dirinya sebagai kaum tertindas. Masalahnya, masalah itu masih tetap terselimuti kabut tebal, yang pelan-pelan mulai terkuak. Seorang pastor Katolik, Richard Williamson, pada Januari 2009, membuat tindakan yang mengejutkan dengan menyatakan, bahwa korban Yahudi di Tangan Nazi hanya sekitar 200.000-300.000 orang, dan bukan 6 juta seperti klaim Yahudi selama ini. Ia juga membantah adanya kamar gas untuk membantai kaum Yahudi tersebut.

Seorang cendekiawan Yahudi, Norman G. Finkelstein membongkar praktik-praktik bisnis holocaust melalui bukunya, The Holocaust Industry (2000). Meskipun keluarganya menjadi korban Nazi, tapi Finkelstein berani memaparkan konspirasi seputar Holocaust. Kaum Yahudi mengeruk keuntungan yang luar biasa dari bisnis holocaust ini. Selama ini, Holocaust menjadi barang suci yang tidak boleh disentuh. Padahal, bukti-bukti sejarah menunjukkan, angka 6 juta orang sangat sulit dibuktikan dalam sejarah. Banyak cerita-cerita palsu seputar Holocaust yang selama ini disampaikan di publik, terutama kepada masyarakat Amerika Serikat.

Ketika misteri Holocaust makin terkuak di dunia internasional, justru di Indonesia, kelompok LibForAll dapat menggelar satu Konferensi yang mendukung klaim kaum Zionis atas Holocaust. Tentu, bagi Israel, ini prestasi yang membanggakan. Apalagi, pada bulan Desember 2007, LibForAll juga memberangkatkan lima orang Indonesia ke Israel. Situs harian Jerusalem Post pada 8 Desember 2007 menurunkan sebuah berita berjudul Indonesian “Peace Delegation Meet With Peres” (Delegasi Perdamaian dari Indonesia Temui Shimon Peres). LibForAll sangat membanggakan kedatangan delegasi Indonesia yang keberangkatannya juga diatur oleh Simon Wiesenthal Center. Karena itulah, mereka diberi kesempatan istimewa untuk bertemu langsung dengan Presiden Israel, Shimon Peres.

Melalui LibForAll, lobi-lobi Israel di Indonesia terus dijalankan. Sesuai dengan namanya, organisasi ini sangat aktif dalam melakukan proses liberalisasi pemikiran Islam. Dua organisasi Islam terbesar menjadi sasaran utama, yaitu NU dan Muhammadiyah. Situs LibForAll berisi banyak foto kegiatan yang melibatkan tokoh-tokoh kedua organisasi tersebut. Tentu ini adalah upaya propaganda LibForAll yang ingin membangun citra, seolah-olah mereka sudah berhasil ‘menguasai’ dan ‘mengatur’ kedua organisasi Islam tersebut.

Kita memahami bentuk propaganda model LibForAll ini. Padahal, faktanya, baik di tubuh NU maupun Muhammadiyah, resistensi terhadap Yahudi dan Israel sangatlah tinggi. Apalagi, setelah pembantaian ribuan warga Gaza oleh Israel, citra Israel sebagai negara biadab semakin tertanam secara mendalam pada benak umat Islam Indonesia. Namun, LibForAll, melalui situsnya, terus membanggakan kisah suksesnya dalam menanamkan lobi Yahudi dan menyebarkan paham liberalisme di Indonesia.

Salah seorang yang dibangga-banggakan oleh LibForAll adalah yaitu Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, penasehat LibForAll yang juga guru besar UIN Yogya. Dalam situsnya, LibForAll menulis peran penting Munir Mulkhan dalam memberantas ekstrimisme di Muhammadiyah. Prestasi Munir dalam menolak ekstrimisme dan menjauhkan Muhammadiyah dari partai politik Islam, khususnya PKS, disebut sebagai sebuah prestasi besar (a landmark achievement). PKS disebut identik dengan Hamas dan berafiliasi dengan kelompok radikal Ikhwanul Muslimin. LibForAll menulis:

“The new year arrived on the heels of a landmark achievement by LibForAll Advisor and Senior Fellow Dr. Abdul Munir Mulkhan (former Vice Secretary of the Muhammadiyah, the world’s second-largest Muslim organization, with 30 million members). After a year-long campaign, Dr. Munir succeeded in mobilizing his organization to officially reject extremism and distance itself from Islamist political parties, which have penetrated the Muhammadiyah through the so-called “Tarbiyah,” or Islamic Education, movement. The heavily-funded group thus rejected, the PKS, is the Indonesian political equivalent of Hamas, and is affiliated with the radical Muslim Brotherhood.”

Prestasi Munir Mulkhan ini ditulis juga dalam sebuah artikel di Wall Street Jornal (10/4/2007) berjudul “The Exorcist: An Indonesian man seeks “to create an Islam that will make people smile” oleh Bret Stephens. Prof. Abdul Munir Mulkhan dikenal sebagai aktivis lintas agama yang memang sangat liberal. Ia sangat terobsesi untuk meletakkan nilai-nilai kemanusiaan universal di atas ajaran-ajaran agama yang ada.

Sekedar contoh, simaklah isi sebuah buku karya Prof. Abdul Munir Mulkhan berjudul Kesalehan Multikultural (2005) diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah. Dalam buku ini, secara tegas Munir menolak Pendidikan Tauhid seperti yang dipahami kaum Muslim selama ini. Sebagai gantinya, dia mengajukan gagasan ‘Pendidikan Islam Multikultural’. Munir menulis:

“Jika tetap teguh pada rumusan tujuan pendidikan (agama) Islam dan tauhid yang sudah ada, makna fungsional dan rumusan itu perlu dikaji ulang dan dikembangkan lebih substantif. Dengan demikian diperoleh suatu rumusan bahwa Tuhan dan ajaran atau kebenaran yang satu yang diyakini pemeluk Islam itu bersifat universal. Karena itu, Tuhan dan ajaran-Nya serta kebenaran yang satu itu mungkin juga diperoleh pemeluk agama lain dan rumusan konseptual yang berbeda. Konsekuensi dari rumusan di atas ialah bahwa Tuhannya pemeluk agama lain, sebenarnya itulah Tuhan Allah yang dimaksud dan diyakini pemeluk Islam. Kebenaran ajaran Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain itu pula sebenarnya yang merupakan kebenaran yang diyakini oleh pemeluk Islam.” (hal. 182-183).

Konsepsi seperti itu adalah melihat masalah keagamaan dengan sudut pandang humanisme. Bukan sudut pandang Kristen, Yahudi, Islam, atau agama-agama lain. Bagi Islam, jelas bukan begitu cara memandang Tuhan dan agama-agama yang ada. Nabi Muhammad saw diutus untuk menjernihkan berbagai ajaran para nabi yang sudah diselewengkan oleh kaum Yahudi. (QS 2:75, 2:79). Berbagai tindakan syirik juga mendapatkan kecaman keras dalam al-Quran. Kurang jelas apakah pandangan Tauhid Islam selama ini? Mengapa Prof. Munir Mulkhan sampai berani mengusulkan agar pendidikan Tauhid Islam itu diubah konsepnya? Aneh juga, oleh PSAP, Munir dijuluki sebagai salah satu “Begawan Muhammadiyah”, sehingga penerbitan buku ini ditulis sebagai “Seri Begawan Muhammadiyah.”

Berpegang pada konsep kesamaan Tuhan pada semua agama itu, Munir menafikan konsep Tuhan pada masing-masing agama. Dia menulis:

“Bentuk-bentuk ritual yang sakral yang selama ini cenderung lebih “memanjakan” Tuhan dan tidak manusiawi, perlu dikembangkan sehingga menjadi ritus-ritus kultural yang sosiologis dan humanis. Tuhan yang Maha Tunggal itu adalah Tuhan yang diyakini pemeluk semua agama di dalam beragam nama dan sebutan. Surga dan penyelamatan Tuhan itu adalah surga dan penyelamatan bagi semua orang di semua zaman dalam beragam agama, beragam suku bangsa dan beragam paham keagamaan. Melalui cara ini, kehadiran Nabi Isa a.s. atau Yesus, Muhammad saw, Buddha Gautama, Konfusius, atau pun nabi dan rasul agama-agama lain, mungkin menjadi lebih bermakna bagi dunia dan sejarah kemanusiaan… Tuhan semua agama pun mungkin begitu kecewa melihat manusia menggunakan diri Tuhan itu untuk suatu maksud meniadakan manusia lain hanya karena berbeda pemahaman keagamaannya.” (hal. 190).

Lihatlah, ketika bicara tentang Tuhan, Munir hanya menggunakan fantasinya. Padahal, dia sendiri tidak paham akan Tuhan. Dia mengharuskan Tuhan untuk mengikuti logikanya sendiri. Seolah-olah, dialah yang mengatur Tuhan. Padahal, sebagai orang yang mengaku Muslim, harusnya dia merujuk kepada konsep-konsep yang dibawa oleh utusan Allah, Nabi Muhammad saw. Karena dialah yang mendapatkan mandat dari Allah untuk menjelaskan siapa Allah dan bagaimana cara menyembah-Nya. Karena itulah, Nabi Muhammad saw mengajak kaum Musyrik Arab untuk beriman kepadanya dan menjauhi dosa syirik. Amat sangat jelas, apa misi Nabi Muhammad saw dan misi semua Nabi, yaitu untuk mengajak manusia agar jangan menyembah tuhan selain Allah (QS 16:36).

Jadi, konsep pendidikan agama Multikulturalisme yang dibawakan oleh Munir Mulkhan memang sangat bermasalah. Tapi, laksana virus, paham ini pun disebarkan oleh berbagai kalangan. Sebagian sudah mulai melangkah lebih jauh lagi dengan mengajukan konsep “Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Itulah judul sebuah buku yang ditulis seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah, yang diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Misi buku ini juga sejalan dengan misi Free Mason, yaitu menghapus pemisah antar manusia: “Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agama.” (hal. 45).

Selain Munir Mulkhan, intelektual lain yang dibangga-banggakan oleh LibForAll untuk melakukan proses liberalisasi di Indonesia adalah Prof. Nasr Hamid Abu Zaid. Mulai 2007, LibForAll membuat sebuah proyek Tafsir Al-Quran yang dipimpin Abu Zaid, yang juga penasehat LibForAll, sebagaimana Munir Mulkhan. Tafsir ini akan menggunakan metode modern yang menolak metode panafsiran literal dan membuang pemikiran-pemikiran ekstrimisme. Ditulis di situsnya, bahwa Tafsir ini akan dikerjakan oleh sarjana-sarjana Quran terkemuka di dunia dari Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Tafsir Al-Quran ini nanti diharapkan dapat menjadi jembatan bagi kaum Muslim untuk menjembatani antara tradisi Islam dengan nilai-nilai kebebasan (freedom), kesetaraan, Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan globalisasi.

Situs LibForAll juga memberikan perhatian khusus kepada kasus yang menimpa Abu Zaid pada bulan November 2007. Ketika itu, Abu Zaid gagal menghadiri acara Annual Conference on Islamic Studies di Riau dan juga satu seminar internasional di Malang. Oleh LibForAll, pihak-pihak yang menolak pemikiran Abu Zaid dicap sebagai kaum ekstrimis.

Sebuah prestasi lain yang dibanggakan oleh LibForAll di Indonesia adalah diterbitkannya buku berjudul 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara, pada Januari 2007. Buku ini dieditori oleh aktivis LibForAll, Ahmad Gaus dan Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Peluncuran buku ini berlangsung besar-besaran. Di situs LibForAll, ditampilkan tokoh-tokoh yang menghadiri acara tersebut, seperti Abdurrahman Wahid, Din Syamsuddin, dan Azyumardi Azra yang juga penasehat LibForAll.

Menyimak kiprah LibForAll di Indonesia, tampak bagaimana mereka menggunakan kekuatan dana yang sangat besar untuk membangun citra positif Israel di Indonesia. Dengan alasan memerangi ekstrimisme di kalangan Muslim, LibForAll juga berhasil menggaet kalangan elite Muslim untuk mendukung upaya liberalisasi Islam di Indonesia. Sebenarnya, jika dipikirkan, inilah politik belah bambu yang sejak dulu diterapkan oleh penjajah kepada umat Islam. Sebagian disanjung-sanjung dan diberi kenikmatan duniawi, sebagian lain diinjak dan dimaki-maki sebagai kaum ekstrimis.

Melalui berbagai kiprah dan opini yang dibangunnya, tampak LibForAll hanya memberikan pilihan kepada kita: berteman dengan Shimon Peres atau Hamas. Jika berteman dengan Peres, akan diberi julukan mulia sebagai “penyebar perdamaian”. Jika berteman dengan Hamas, akan segera mendapatkan cap ” ekstrimis”. Silakan pilih!
(oleh:Adian Husaini)



Read more...

Selasa, 28 Juli 2009

INI DIA SUMBER, PENYEBAB & BIANG KEROK FLU BABI...!













Read more...

Minggu, 19 Juli 2009

"kambing hitam" alias "scape-goat" Tradisi Israel

Tiap kali kekerasan terjadi, ramai-ramai kita mengutuknya. Kita sebagai kesatuan kolektif merasa tidak tersangkut dengan itu semua dan lantas merasa bersih. Maka, begitu pelaku kekerasan terungkap dan tertangkap, kelegaan itu bertambah besar, terlebih saat pelaku sama sekali tak ada sangkutannya dengan kita. Seakan-akan kita semua oke, kasip dari kemungkinan sebagai bagian dari prilaku kekerasan.

Itulah versi lain dari "mekanisme kambing hitam".

Kita terbiasa menyebut istilah "kambing hitam" kepada objek yang dianggap sebagai asal muasal masalah, entah itu kekerasan, entah itu huru-hara, entah apa pun itu. Seringkali "kambing hitam" kita rujuk sebagai objek yang sebenarnya bukan pelaku sesungguhnya, hanya pengalihan, sekadar orang yang dipersalahkan.

Tapi "mekanisme kambing hitam" tak sesederhana itu. Untuk mengetahui genesis mekanisme kambing hitam, Anda bisa membacanya dengan lebih lengkap di wikipedia pada halaman ini. Saya akan meringkasnya berdasarkan apa yang ditulis oleh Andreas Anangguru Yewangoe dalam buku Agama dan Kerukunan (hal. 29-30):

"Dalam tradisi Israel (Perjanjian Lama), pada hari raya Grafirat, dua ekor domba disiapkan. Yang seekor disembelih dan dipersembahkan sebagai kurban pengampunan dosa, dan yang lainnya dibiarkan hidup. Keatasnya diletakkan dosa-dosa umat Israel, lalu bintang itu diusir ke padang gurun. Dengan demikian dosa-dosa bangsa Israel ikut dibawa ke sana, dan umat dipulihkan kembali. Segala kegiatan sehari-hari berjalan lagi seperti biasa, karena krisis sudah lewat."

Istilah "kambing hitam" alias "scape-goat" bermula dari situ. Dari apa yang mulanya lahir dalam ritus, "mekanisme kambing hitam" secara jenial ditafsir-kembangkan oleh Rene Girard sebagai salah satu cara untuk memahami reproduksi kekerasan yang berlangsung terus-menerus, dari hari ke hari, dari abad ke abad, dan bagaimana kekerasan itu bersamayam sebagai sebuah potensi yang hanya menunggu waktu saja untuk mencuat dan meledak.

Kekerasan, seperti pernah ditunjukkan oleh Erich Fromm dengan dualisme etos dalam diri manusia yaitu "eros" dan "pathos", adalah sesuatu yang imanen dalam sejarah manusia. Ketika itu, kekerasan terjadi antar satu orang dengan yang lain. "Homo homini lupus", manusia menjadi serigala bagi yang lain, kata Thomas Hobbes. Dalam situasi tertentu, kekerasan tidak lagi berlangsung antara orang per orang, tapi kelompok dengan kelompok, semua melawan semua -- "bellum omnium contra omnes", pinjam istilah Hobbes yang lain.

Agama-agama kuno mencoba mengatasi kesulitan ini dengan upacara korban, yakni dengan melemparkan penyebab penderitaan itu pada suatu sosok, yang disebut "kambing hitam".

Sosok yang menjadi "kambing hitam" ini bukan cuma diperlakukan sebagai muasal penyebab penderitaan kekerasan, tapi juga pada semua jenis penderitaan, kesusahan, cobaan, tulah, melapateka dan bala yang menimpa sebuah kota.

Naskah Oedipus Rex yang ditulis Sophocles dimulai oleh pertanyaan: siapa penyebab dewa-dewa menurunkan wabah penyakit? Dalam versi mitologi, kesalahan ditimpakan pada Oedipus yang dituduh membunuh Laius dan memperkosa ibunya, Yocasta.

Rene Girrard pernah menuliskan secara khusus sosok Ayub sebagai ilustrasi sosok kambing hitam --selain sosok Oedipus-- dalam bukunya, Job, the Victim of His People. Saya kutipkan apa yang ditulis Girard di buku itu berdasar versi terjemahan penerbit BPK Gunung Mulia:

"Proses pemilihan seorang korban pengganti menyisihkan antagonisme setiap orang dalam satu gerakan dengan memusatkan perhatian pada musuh bersama, dan kemudian menyingkirkan sang korban. Hal itu menghidupkan kembali perdamaian, seolah-olah hal itu amat menakjubkan dan efek yang ditimbulkannya diperbesar oleh kenyataan bahwa kesatuan yang diperoleh kembali dengan tiba-tiba tampak sebagai hasil dari intervensi kuasa supranatural....

Korban diubah menjadi obat yang amat mengagumkan, berbahaya, namun dalam dosis yang pas, ia mampu menyembuhkan semua penyakit. Bila Ayub bersedia memainkan peranannya dengan patuh niscaya ia akan segera diubah menjadi seseorang yang besar, bahkan mungkin sebagai yang sedikit bersifat illahi."

Dengan itulah, kata Girard, situasi yang tadinya satu lawan satu (homo homini lupus) atau semua lawan semua (bellum omnium contra omnes) berganti menjadi "satu lawan semua".

Tapi dengan itulah masyarakat, kita semua, merasa tersembuhkan karena kekerasan, kehancuran dan penderitaan itu sudah dibebankan penyebabnya pada orang lain, Si Kambing Hitam, bukan pada potensi kekerasan yang sebenarnya ada pada setiap orang.

Dalam kata-kata Sindhunata, yang terpacak di salah satu halaman bukunya yang berjudul Kambing Hitam: Teori Rene Girard (hal. 205):

"...rivalitas diredakan, konflik dan kekerasan dihilangkan, dan masyarakat kembali ke dalam ketenangannya. Kambing hitam yang tadinya dianggap jahat dan penyebab kekerasan, kini disakralkan dan dianggap sebagai pembawa perdamaian. Ia tampak sekaligus sebagai yang terkutuk dan pembawa keselamatan. Dengan demikian, agresi internal dikosongkan seraya dipindahkan ke luar, dan masyarakat dipulihkan dari kehancuran diri."

Kematian, pengusiran atau pengasingan sosok atau objek yang jadi kambing hitam kerap mendatangkan efek menenangkan yang misterius. Ketika tubuh korban tercabik-cabik atau ketika punggung korban yang terusir makin menjauh di ujung cakrawala pandangan umat yang mengusirnya, ada ketenangan yang menjalar, ada rasa aman yang mewedar. Proses spontan yang berlangsung selama berabad-abad itu mengajar manusia purba bahwa cara paling efektif untuk mencegah kekerasan yang tak terkendali adalah dengan menyalurkan ketegangan kolektif pada individu atau sekelompok orang tertentu.

(Carl Schimtt, penulis buku Politische Theologie, yang juga menguraikan bagaimana agama dan ritus-ritusnya menjadi "selimut kekerasan", menyebutkan bahwa kata "decision" berasal dari kata "decidere" yang berarti: memenggal leher korban. "Memutuskan" berarti memenggal leher korban. Baca Filsafat Fragmentaris karya F. Budi Hardiman, halaman 169)

Tapi karena kekerasan sudah telanjur imanen dalam sejarah peradaban, kekerasan akhirnya tidak lantas punah saat satu korban sudah dihabisi (macam Yesus oleh orang Yahudi atau orang Yahudi oleh Nazi), diasingkan (macam Ayub) atau diusir (macam orang tua dan anak kembar buncing atau kembar laki-perempuan dalam tradisi lama Bali). Ia terus berulang dan tereproduksi melalui -- dalam kata-kata Girard-- "proses mimetik".

Girard tentu saja tidak selalu benar. Seperti yang pernah dikritik oleh Leo D Lefebure dalam halaman 32-36 bukunya Christian Living: Revelation, the Religions, and Violence, Girard kadang terlalu menyederhanakan proses kompleks dalam sejarah peradaban. Ia juga mengabaikan begitu saja korban-korban kambing hitam yang tidak berdarah, seperti korban sayur-sayuran, tanaman, atau hasil bumi yang hanya dibiarkan teronggok dan membusuk.

Tapi Girard menurut saya menawarkan salah satu cara baca yang nyaris jadi prosedur dalam cara kita menyikapi kekerasan.

Mengasingkan dan mengutuk para pelaku kekerasan, dengan demikian, menjadi "mekanisme kambing hitam" yang lain: itulah saat di mana kita semua memindahkan potensi kekerasan yang imanen dalam diri kita sendiri sepenuhnya ke jidat orang lain, bahkan walau pun orang lain itu nyata-nyata adalah seorang teroris. Alih-alih mengakui bahwa pada setiap masing-masing diri kita mengidap potensi kekerasan, betapa pun ringannya, kita justru mengelak, menangkis dan tidak mengakui potensi itu.

Pelaku kekerasan, termasuk para teroris itu, jauh lebih baik untuk diakui sebagai bagian inheren dari kebudayaan, peradaban dan diri kita sendiri. Dengan meminjam pikiran Emmanuel Levinas, menerima dan mengakui itu semua membuat kita menjadi terbuka dan menyambut "yang lain", "sang liyan", "the others".

Dengan itulah, kekerasan justru bisa diperiksa dengan lebih cermat dan adil, sebab memeriksa sesuatu yang tidak kita akui, mencermati apa yang kita tolak dan berjarak dari diri kita sendiri, lebih mungkin menjadi suatu kerja yang meleset ketimbang akurat, lebih mungkin menjadi satu kerja yang gagal daripada berhasil.

Itulah sebabnya Karlina Leksono, dalam pidato kebudayaannya beberapa tahun silam, pernah menyebut bahwa gerakan tanpa-kekerasan (non-violance) dalam dirinya sendiri memendam contradictio in-terminis.

Tanpa-kekerasan (non-violence) murni hanya tercapai melalui ketidakberhubungan terhadap yang lain, dan ketidakberhubungan itu sendiri adalah kekerasan sekalipun dalam bentuknya yang paling ringan. Kebisuan seseorang, semata-mata gerak isyarat kolektif, atau harapan utopis akan kondisi tanpa kekerasan merupakan kekerasan pula.

Ini seperti gema kata-kata Derrida yang disuar-pendarkan dalam esainya yang provokatif berjudul Violance and Metaphysics (diterbitkan dalam antologi esai berjudul Writing and Differance). Karena seseorang tidak mungkin menghindarkan diri dari berbicara, dan tak ada penolakan atau pencelaan terhadap kekerasan yang tanpa tindakan atau gerak isyarat tertentu, ujar Derrida, ...maka penolakan terhadap kekerasan hanyalah dengan kekerasan lagi, betapa pun ringannya.

Tampaknya, memang "selalu ada kambing (hitam) di antara kita". Atau, jangan-jangan, lebih tepat kalimatnya di balik jadi: "Selalu ada kita di antara kambing (hitam)"?





Read more...

Minggu, 05 Juli 2009

"Kebenaran"

Untuk menguasai agama tidak perlu beragama, demikian kata kaum liberal. Itulah sebabnya mereka membuat “teologi-teologi” baru. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu logikanya

“Semua adalah relatif” (All is relative) merupakan slogan generasi zaman postmodern di Barat, kata Michael Fackerell, seorang missionaris asal Amerika. Ia bagaikan firman tanpa tuhan, dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai undang-undang, tapi tanpa penguasa. Tepatnya dokrtin ideologis, tapi tanpa partai. Slogan itu memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang menilainya.

Slogan relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir Barat modern Barat terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat. Generasi postmodernis pun mewarisi kebencian ini. Tapi semua orang tahu, kebencian tidak pernah bisa menghasilkan kearifan dan kebenaran. Bahkan persahabatan dan persaudaraan tidak selalu bisa kompromi dengan kebenaran. Aristotle rela memilih kebenaran dari pada persahabatan.

Tidak puas dengan sekedar membenci, postmodernisn lalu ingin menguasai agama-agama. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu mungkin logikanya. Untuk menguasai agama tidak perlu beragama. Itulah sebabnya mereka lalu membuat “teologi-teologi” baru yang mengikat. Kini teologi dihadapkan dengan psudo-teologi. Agama diadu dengan ideologi. Doktrin “teologi” pluralisme agama berada diatas agama-agama. “Global Theology” dan Transcendent Unity of Religions mulai dijual bebas. Agar nama Tuhan juga menjadi global di ciptakanlah nama “tuhan baru” yakni The One, Tuhan semua agama. Tapi bagaimana konsepnya, tidak jelas betul.

Bukan hanya itu “Semua adalah relatif” kemudian menjadi sebuah kerangka berfikir. “Berfikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”, sebab kebenaran itu relatif. “Jangan terlalu lantang bicara tentang kebenaran, dan jangan menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif. “Benar bagi anda belum tentu benar bagi kami”, semua adalah relatif. Kalau anda mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan anda benar, iman orang lain mungkin juga benar. Intinya semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran. Kata bijak Abraham Lincoln, “No one has the right to choose to do what is wrong”, tentu tidak sesuai dengan kerangka fikir ini. Hadith Nabi Idha ra’a minkum munkaran…dst bukan hanya menyalahi kerangka fikir ini, tapi justru menambah kriteria Islam sebagai agama jahat (evil religion) versi Charles Kimbal.

Jadi merasa benar menjadi seperti “makruh” dan merasa benar sendiri tentu “haram”. Para artis dan selebriti negeri ini pun ikut menikmati slogan ini. Dengan penuh emosi dan marah ada yang berteriak “Semuanya benar dan harus dihormati”. Yang membuka aurat dan yang menutup sama baiknya. Confusing! Sadar atau tidak mereka sedang men “dakwah”kan ayat-ayat syetan Nietzsche tokoh postmodernisme dan nihilisme. “Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar orang lain juga berhak mengklaim itu salah”. Kalau anda merasa agama anda benar, orang lain berhak mengatakan agama anda salah.

Para cendekiawan Muslim pun punya profesi baru, yaitu membuka pintu surga Tuhan untuk pemeluk semua agama. “Surga Tuhan terlalu sempit kalau hanya untuk ummat Islam”, kata mereka. Seakan sudah mengukur diameter surga Allah dan malah mendahului iradat Allah. Mereka bicara seperti atas nama Tuhan.

Slogan “Semua adalah relatif” kemudian diarahkan menjadi kesimpulan “Disana tidak ada kebenaran mutlak” (There exists no Absolute Truth)”. Kebenaran, moralitas, nilai dan lain-lain adalah relatif belaka. Tapi karena asalnya adalah kebencian maka ia menjadi tidak logis. Kalau anda mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” maka kata-kata anda itu sendiri sudah mutlak, padahal anda mengatakan semua relatif. Kalau anda mengatakan “semua adalah relatif” atau “Semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan anda itu juga relatif alias tidak absolut. Kalau “semua adalah relatif” maka yang mengatakan “disana ada kebenaran mutlak” sama benarnya dengan yang menyatakan “disana tidak ada kebenaran mutlak”. Tapi ini self-contradictory yang absurd.
Menghapus kepercayaan pada kebenaran mutlak ternyata bukan mudah. Di negeri liberal seperti Amerika Serikat sendiri 70% Krsiten missionaries dan 27% atheis dan agnostik percaya pada kebenaran mutlak. Bahkan 38% warga Negara dewasanya percaya pada kebenaran mutlak. (Seperti dilaporkan William Lobdell di the Los Angeles Times dari hasil penelitian Barna Research Group). Karena itu doktrin postmo pun berubah:“Anda boleh percaya yang absolut asal tidak mencoba memaksakan kepercayaan anda pada orang lain”. Artinya tidak ada siapapun yang boleh menyalahkan siapa dan melarang siapa. Tapi pernyataan ini sendiri telah melarang orang lain. Bagi kalangan Katholik di Barat ini adalah sikap pengecut, pemalas dan bahkan hipokrit. Bagi kita pernyataan ini menghapuskan amar ma’ruf nahi munkar.

Slogan “Semua adalah relatif” pun menemukan alasan baru “yang absolut hanyalah Tuhan”. Aromanya seperti Islami, tapi sejatinya malah menjebak. Mulanya seperti berkaitan dengan masalah ontologi. Selain Tuhan adalah relatif (mumkin al-wujud). Tapi ternyata dibawa kepada persoalan epistemologi. Al-Qur’an yang diwahyukan dalam bahasa manusia (Arab), Hadith yang disabdakan Nabi, ijtihad ulama dsb. adalah relatif belaka. Tidak absolut. Sebab semua dihasilkan dalam ruang dan waktu manusia yang menyejarah. Padahal Allah berfirman al-haqq min rabbika (dari Tuhanmu) bukan ‘inda rabbika (pada Tuhanmu). “Dari Tuhanmu” berarti berasal dari sana dan sudah berada disini di masa kini dalam ruang dan waktu kehidupan manusia. Yang manusiawi dan menyejarah sebenarnya bisa mutlak.

Thomas F Wall, penulis buku Thinking Critically About Philosophical Problem, menyatakan percaya pada Tuhan yang mutlak berarti percaya bahwa nilai-nilai moral manusia itu dari Tuhan. Demikian sebaliknya kalau kita tidak percaya Tuhan (hal 60). Jika ada yang percaya bahwa nilai moral manusia itu adalah kesepakatan manusia,…tentu ia tidak percaya pada yang mutlak. “Semua adalah relatif” bisa berarti semua tidak ada yang tahu Tuhan yang mutlak dan kebenaran firmanNya yang mutlak. Jika begitu benarlah pepatah para hukama ’al-Nas a‘da ma jahila, manusia itu benci terhadap apa yang tak diketahuinya.

oleh: Hamid Fahmi Zarkasy *
www.hidayatullah.com


Read more...

“Wajah Barat”

Jika umat Islam ingin maju seperti Barat, maka ia akan menjadi seperti Barat dan bukan seperti Islam

Suatu hari David Thomas, Pendeta dan Professor teologi di Selly Oak College, Universitas Birmingham, Inggris ditanya seorang mahasiswanya yang Muslim.

“Are you happy with the Western civilization?” “No, not at all” jawabnya tegas.

“Why?” tanyanya. Sebab, paparnya, Barat dan orang-orang Barat maju dan berkembang bukan karena Kristen.

Bos pabrik cokelat Cadbury, katanya mencontohkan, menyumbang dana jutaan Poundsterling untuk membangun perpustakaan Selly Oak bukan karena ia seorang Kristen, tapi karena ia kaya dan punya dana sosial lebih.

Jawaban Thomas mengungkap fakta sejarah. Barat bukan Kristen. Sejarawan Barat seperti Onians, R.B, Arthur, W.H.A, Jones, W.T.C, atau William McNeill, umumnya menganggap “Ionia is the cradle of Western civilization” dan Bukan Kristen. Agama Kristen malahan telah ter-Baratkan. Thomas sepertinya ingin mengatakan bahwa Barat tidak lahir dari pandangan hidup Kristen.

Sosoknya mulai nampak ketika marah dan protes terhadap otoritas gereja. Agama dipaksa duduk manis di ruang gereja dan tidak boleh ikut campur dalam ruang publik. Diskursus teologi hanya boleh dilakukan dengan bisik-bisik. Tapi orang boleh teriak anti agama. Hegemoni diganti dengan hegemoni. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.

Teriakan Nietzsche “God is dead” masih terdengar hingga saat ini. Dalam The Gay Science ia mengatakan, “ketika kami mendengar “tuhan yang tua itu mati” kami para filosof dan “jiwa-jiwa yang bebas” merasa seakan-akan fajar telah menyingsing menyinari kita”.

Kematian tuhan di Barat ditandai oleh penutupan diskursus metafisika tempat teologi bersemayam. Tuhan bukan lagi supreme being (Maha Kuasa). Tidak ada lagi yang absolute. Semua relatif. Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar maka orang lain berhak menghakimi itu salah. Tuhan tidak lagi bisa diwakili. Ia telah mati. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.

Mengapa tuhan perlu dibunuh? Kalau Marx menganggap agama sebagai candu masyarakat, Nietzsche menganggap tuhan sebagai tirani jiwa (tyrant of the soul). Beriman pada tuhan tidak bebas dan bebas berarti tanpa iman. Sebab beriman berarti sanggup menerima perintah, larangan atau peraturan yang mengikat. Barat adalah alam pikiran pandangan hidup.

Sejarah Barat adalah sejarah pencarian “kebenaran”. Tapi mencari kebenaran di Barat lebih penting dari kebenaran itu sendiri. Mencari untuk mencari, ilmu untuk ilmu, seni untuk seni. Sesudah “membunuh tuhan” Barat mengangkat tuhan baru yakni logocentrisme atau rasionalisme. Tidak puas dengan tuhan baru mereka mengangkat liberalisme. Namun kini liberalisme seperti moncong bedil. Pandangan-pandangan yang tidak “setuju” harus keluar atau berhadapan. “You are with us or against us”.

Liberalisme membawa gagasan kepelbagaian (multiplicities), kesamarataan, (equal representation) dan keraguan yang menyeluruh (total doubt). Barat kini adalah sosok yang tanpa wajah. Atau seperti kata Ziauddin Sardar wajah yang tanpa kebenaran (no truth), tanpa realitas (no reality), tanpa makna (no meaning). There is no comfort in the truth. Setting alam pikiran Barat ini dihukumi Francis Fukuyama sebagai akhir dari sejarah (the end of History).

Diskursus tentang God-man & God-world relation di abad pertengahan kini sudah tidak relevan. Humanisme telah mendominasi dan menyingkirkan theisme. Akibatnya, teologi tanpa metafisika, agama tanpa spiritualitas atau bahkan religion without god. Teologi (theos dan logos) secara etimologis tidak lagi memiliki akar ketuhanan. Istilah teologi pembebasan, teologi emansipasi, teologi menstruasi dsb. tidak lagi berurusan dengan Tuhan. Agama bagi postmodernisme tidak lebih dari sebuah narasi besar (grand narrative) yang dapat diotak-atik oleh permainan bahasa. Makna realitas tergantung kepada kekuatan dan kreatifitas imaginasi dan fantasi. Feeling is everything kata Goethe.

Kebenaran itu relatif dan menjadi hak dan milik semua. Kebenaran adalah illusi verbal yang diteima masyarakat atau tidak beda dari kebobongan yang disepakati. Etika harus di globalkan agar tidak ada orang yang merasa paling baik. Baik buruk tidak perlu berasal dari apa kata Tuhan, akal manusia boleh menentukan sendiri.

Barat adalah alam pikiran pandangan hidup. Seperti juga Barat, Kristen, Islam, Hindu, bahkan Jawa adalah sama-sama pandangan hidup. Meski sama namun kesamaan hanya pada tingkat genus, bukan species. Masing-masing memiliki karakter dan elemennya sendiri-sendiri. Jika elemen-elemen suatu pandangan hidup dimasuki oleh elemen pandangan hidup lain, maka akan terjadi con-fusion alias kebingungan. Margaret Marcus (Maryam Jameelah), malah mengingatkan jika pandangan hidup Barat menelusup kedalam sistim kepercayaan Islam, tidak lagi ada sesuatu yang orisinal yang akan tersisa. Benar, ketika elemen-elemen Barat yang anti Kristen dipinjam anak-anak muda Muslim, maka mulut yang membaca syahadat itu akan mengeluarkan pikiran atheis. Tuhan yang Maha Kuasa, bisa menjadi “tuhan yang maha lemah”, Al-Quran yang suci dan sakral tidak beda dari karya William Shakespear, karena ia sama-sama keluar dari mulut manusia.

Jika ummat Islam ingin maju seperti Barat maka ia akan menjadi seperti Barat dan bukan seperti Islam. Dan suatu hari nanti akan ingat keluhan David Thomas atau tangisan Tertulian yang sudah lapuk “Apalah artinya Athena tanpa Jerussalem”.



Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi *

www.hidayatullah.com

Read more...

Mereka BerkataTentang Yahudi

(Sumber: Abul Fida Muhammad Izzet Muhammad Arif, “Dajjal Pemimpin Yahudi”, Solo: Ziyad Visi Media, November 2007)

Greece Halspec dlm bukunya “Kenabian dan Politik”, menukil ucapan seorang fundamentalis bernama Paul Will:
“Sesungguhnya kami sangat menaruh hormat kepada presiden Sadat dan Menahim Begin. Hanya saja kesepakatan perundingan Camp David umurnya tidak akan berlangsung lama. Di sana, di Timur Tengah sama sekali tidak ada kata perdamaian, sampai saatnya al-Masih muncul kemudian ia duduk di atas singgasana Daud di Yerusalem (al-Quds).”

Mayer Rochild mengatakan (disebutkan dalam buku Copeland “Ahjaar ‘Ala Riq’atis Syath Ranji” hlm 48):
“Ketika tiba saatnya bagi tuan kami dan tuan seluruh umat di dunia ini untuk menerima tongkat kekuasaan, maka dengan otomatis tangan ini akan menyingkirkan semua orang yang mencoba menghalangi jalannya.”

Dalam Protokolat Zionis ke-9 dijelaskan hakikat obsesi Zionis:
“Sesungguhnya kami memiliki banyak obsesi jauh ke depan. Yang ia akan menjadi sumber segala teror bagi mereka yang menghalang-halangi di tengah jalan.”


Dalam Protokolat Zionis ke-4 disebutkan:
“Siapa saja dan apa saja yang bisa melepas kekuatan tersembunyi dari singgasananya? Sudah pasti hal ini berkaitan erat dengan pecahnya perang Arab pada saat ini. Sesungguhnya Freemason yang tersebar di seluruh dunia ini hendaklah terus melakukan terobosan saat manusia terlena, bergerak sebagai batu loncatan bagi obsesi kita. Tapi perlu diingat bahwa keuntungan yang bisa kita capai –yang kita terus berusaha merealisasikannya– dari kekuatan ini, sesuai dengan program kerja kita, begitu juga dengan di setiap pusat komando gerakan kita, bagi dunia ini obsesi kita masih menjadi tanda tanya besar, tak seorang pun boleh tahu!!”

Rabbi tentara Israel –saat memasuki kota al-Quds dengan membawa Taurat (yang diselewengkan) kemudian berhenti di depan Tembok Ratapan– mengatakan:
“Mulai hari ini kita sudah memasuki masa al-Masihi setelah kita mampu menguasai al-Quds dan Tembok Ratapan.”

Dalam sebuah pernyataan pada muktamar kelompok B’Nai B’Rith, sebuah anak gerakan Masonry Yahudi pada bulan Februari 1936 dinyatakan:
“Sesungguhnya kerajaan Yahudi yang ditunggu kemunculannya tidak akan pernah rela memerintah dunia ini sebelum menghancurkan Paus dari kursi kekuasaannya dan melepas semua raja-raja di dunia ini.”

Bernad Dezrailly telah menulis sebuah buku pada tahun 1844:
“Dunia ini dipimpin dan dikendalikan olah beberapa orang yang sangat jauh berbeda dari apa yang dibayangkan oleh kebanyakan manusia yang tidak bisa mengenal lebih dekat rahasia-rahasia yang ada di dalamnya.”
(Bernad Dezrailly adalah saudara sepupu Benyamin Dezrailly (seorang Yahudi yang mewajibkan kepada anak-anaknya agar mereka mengabadikan nama ini sehingga mereka dapat dikenal hingga keturunan mereka). Ayahnya bernama Ishaq Dezrailly yang juga seorang Yahudi yang puas dengan ideologi liberalisme yang disebarluaskan oleh gerakan Illuminati di bawah kepemimpinan Rotchild yang mempunyai obsesi satanik)

Oto Basmark, seorang konsultan, mengatakan bahwa terdapat bentuk pemerintahan rahasia yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia, akan tetapi ia juga tidak mampu mendefinisikannya dan memberinya nama. Ia tidak bisa diselami kedalamannya ( immonderabilia).
(Oto Basmark adalah anak ilegal dari Marshall Slot seorang Yahudi yang termasuk anggota kementerian Prancis dan ibunya bernama Louisa Meiken yang juga berdarah Yahudi)

La Marten mengakui adanya pemerintahan yang dikendalikan oleh tangan-tangan fiktif.

Mazini mengatakan kepada Dr. Berdenstein:
“Kita ingin menghadang semua bahaya yang datang. Hanya saja sayangnya di sana ada bahaya yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata manusia dan langkahnya akan menginjak kita semua. Dari mana ia datang? Dan di mana ia sekarang? Tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya. Atau paling tidak, tidak ada satu pun yang mampu membongkar rahasianya. Mereka adalah komunitas rahasia yang terorganisir yang sangat samar program-programnya, sampai pun kita yang masih satu ras dengan mereka.”

Pengarang buku “Pemerintahan Rahasia Internasional” (terjemahan Makmun Said, Cet. VIII, 1409 H/1989 M, Dar an-Nafais, Beirut), Shed Speerdovitz, ditemukan tewas dalam keadaan terkena racun gas sebelum agenda Pertemuan Damai kolosal. Dia adalah keturunan keluarga terpandang asal Skandinavia. Dia telah membongkar Pemerintahan Rahasia Internasional dalam bukunya yang dia yakini betul bahwa terdapat semacam lembaga internasional milik Yahudi yang sifatnya internasional yang anggotanya pada awal abad 20 diperkirakan ada sekitar 300 Yahudi yang diketuai oleh salah satu dari mereka. Pemerintahan mereka dikendalikan dengan cara dikttator. Mereka semua bergerak untuk menguasai dunia dan juga berusaha menguasai semua bangsa-bangsa dunia lewat perantara para antek mereka. Dan mereka tidak akan sungkan menghabisi siapa saja yang diberi wewenang tapi menyeleweng dan tidak taat kepada instruksi pimpinan atau berusaha menghalangi salah satu rencana strategis mereka. Mereka juga mempunyai kekuatan pengaruh yang tidak bisa dibilang remeh, yang sangat memungkinkan untuk menggoalkan setiap orang meskipun ‘gembel’ sampai ke puncak kepemimpinan dan memiliki wewenang tertinggi. Dan mereka juga mampu menjatuhkan siapa saja yang berkuasa kapan saja mereka mau dan mana waktu yang tepat menurut mereka.

William Geycar dalam bukunya “Ahjar ‘Ala Riq’atis Syathranji” (terjemah Said Jazairi, Cet. X, 1408 H/1988 M, Dar an-Nafais, Beirut), mengatakan
“Kitab-kitab suci memberitakan kepada kita konspirasi-konspirasi yang dituliskan, seperti oleh Waiz Hoobert, yang pasti akan dilaksanakan dan direalisasikan. Sampai datangnya suatu hari kekuatan jahat dan durjana akan mampu menguasai muka bumi ini. Salah satu dari ayat kitab tersebut memberitakan kepada kita bahwa syetan akan berdiam diri selama seribu tahun. Dan saya tidak mengatakan tahu secara pasti waktu tersebut jika dibaca dari ayat itu. Atau berapa lama jika kita hitung dengan ukuran manusia yang beredar.”

Dalam sebuah buku Ensiklopedi Pengetahuan Masonry yang diterbitkan di Philadelphia pada tahun 1906 M disebutkan:
“Setiap klub yang ada harus merefleksikan eksistensi Haikal Yahudi. Dan hendaknya setiap rabbi tetap berada pada kursinya (posisinya). Sebagai ungkapan taat kepada raja Yahudi. Dan setiap Mason adalah jelmaan dari antek Yahudi.”

Gold Meir, mantan Perdana Menteri Israel, pernah berkata:
“Al-Quds adalah ibu kota abadi kita. Dan kami tidak akan mengundurkan diri untuk memiliknya meskipun harus menumpahkan darah, sampai datang nanti Sang Pemimpin Perdamaian.”

Dalam sebuah rilis internasional milik Yahudi pada tahun 1861, ditulis:
“Sesungguhnya ruh Masonry Eropa adalah ruh Yahudi dalam hal dasar-dasar keyakinannya. Ia mempunyai perumpamaan dan bahasa yang sama. Dan secara umum ia satu organisasi dan satu cita-cita yang akan menerangi jalan Masonry dan memperkokohnya. Cita-cita itu pula yang menerangi jalan Israel dan memperkokohnya. Adapun tempat penganugerahan mahkota tersebut adalah pada sebuah tempat ibadah yang sangat indah sebagaimana kota al-Quds sebagai simbol dan jantung kemenangan.”

William Care mengatakan:
“Mereka semua adalah dalang di balik semua aksi teror di setiap tempat di dunia ini. Semua dilakukan untuk menyambut raja mereka yang ditunggu-tunggu. Sampai mereka sengaja menempatkan seorang penguasa (sebagai batu loncatan mereka) pada gerakan Rotary agar setia dalam posisi kursi kekuasaannya berkhidmat melayani segala instruksi pemerintahan rahasia sampai mati, dimanapun kekuasaannya berada. Yang tindakan itu melahirkan suatu gerakan baru yang akhirnya gagal dalam pentas politik seperti Komunisme, Marxisme, Sosialisme, atau gerakan sekulerisme yang memisahkan antara agama dan dunia agar manusia menjalani hidup ini tanpa konsep dasar, tanpa norma, dan tanpa akhlak, dan tanpa undang-undang keadilan Ilahi.”

Dr. Said Muhammad Hasan (1882-1948) dalam bukunya “Yahudi di Mesir”:
“Sesungguhnya aktivitas gerakan Yahudi dalam bidang politik terbagi menjadi 3 aliran:
1. Peran pertama, berkaitan dengan peran Yahudi dalam membentuk kader inti internasional. Begitu juga mereka menyebarkan rilis berita tentang pemikiran dan ajaran mereka di tengah masyarakat Mesir.
2. Peran kedua, menyebarkan paham, dan membentuk klub-klub Mason.
3. Peran ketiga, peran mereka dalam kehidupan politik Mesir. Mereka berusaha menembus wilayah politik dengan cara apapun lewat bendera Masonry ini. Bahkan mereka berusaha mengguncang wilayah Dumai dengan jaringan yang sangat halus, hal itu dilakukan semenjak Napoleon Bonaparte hingga saat ini.”

Rochcett, seorang tokoh Yahudi, ditanya tentang gerakan Masonry. Ia menjawab:
“Gerakan Masonry yang merdeka adalah mereka yang membangun kerajaan Yahudi Internasional.”

Pendeta Yahudi –sosok yang dianggap paling berbahaya berkaitan dengan kekuatan jahat di Amerika– yang bernama Abraham Lesvin, yang juga seorang doktor di Universitas Philadelphia, ditanya mengapa mendirikan negara Israel padahal rakyat harus mengorbankan banyak hal. Ia menjawab:
“Semua itu dilakukan untuk menyambut Sang Tokoh Perdamaian… Raja Dunia yang sangat tulus yang akan menguasai dunia ini dan siapa saja yang ada di atasnya dengan berlandaskan Taurat dan Talmud. dan tahun 2000-an adalah tahun pendirian Haikal yang telah dijanjikan dan tahun persiapan singgasana untuk Sang Raja. Dia adalah raja kita yang kita tunggu-tunggu dan dialah Al-Masih kita, karenanya kita berjuang.”

Dalam protokolat Zionis ke-8 disebutkan:
“Kami telah menyebarkan kepada semua negara-negara besar yang mempunyai pengaruh kepemimpinan tentang etika-etika yang negatif dan jauh dari perasaan sehat manusia.”

Simon Broke, salah seorang pemikir Yahudi Barat, mengatakan:
“Keberhasilan kita dalam menguasai budaya dan ekonomi merupakan rahasia kekuatan kita dalam mengendalikan dunia ini. Dan budaya seks bebas merupakan slogan hidup yang dipakai oleh selain kita (goyyim/non-yahudi), agar kita bisa menguasai dan menaklukkan mereka sebagai budak kita nantinya, setelah mereka menjadi budak hawa nafsu mereka sendiri.”

Arkand, salah seorang pemikir salib Barat, menyampaikan sebuah pernyataan pada sebuah pesta di kota New York tahun 1938 M:
“Dengan perantara agen berita internasional dan perantara seni (lewat gedung bioskop, televisi, dan media cetak), kaum Yahudi berusaha mencuci otak kalian dan mencoba memaksakan pandangan mereka kepada kalian dan menceritakan kejadian- kejadian sesuai dengan apa yang mereka inginkan… bukan sesuai dengan realita yang ada. Dan dengan perantara film-film sinema, kaum Yahudi berusaha memberikan konsumsi otak para pemuda dan anak-anak kita. Dengan seenaknya mereka mencekoki tanpa terkendali, sehingga para pemuda dan anak-anak akan menjadi budak dan hamba mereka.”

Peringatan dari Benjamin Franklin
(Sumber: Sabili No. 17 TH. XVI 12 Maret 2009 / 15 Rabiul Awal 1430)

“Di sana ada bahaya besar yang mengancam Amerika. Bahaya itu adalah orang-orang Yahudi. Di bumi mana pun orang Yahudi itu berdiam, mereka selalu menurunkan tingkat moral kejujuran dalam dunia komersial.”

“Jika orang-orang Yahudi tidak disingkirkan dari Amerika dengan kekuatan undang-undang, maka dalam waktu 100 tahun mendatang, mereka akan menguasai dan menghancurkan kita dengan mengganti bentuk pemerintah yang telah kita perjuangkan dengan darah, nyawa, harta, dan kemerdekaan pribadi kita.”



Read more...

Jangan pernah di lupakan Kebiadaban ZIONIS ini !

Jangan pernah di lupakan Kebiadaban ZIONIS ini !
KLIK DIBANNER UNTUK MELIHAT FOTO-FOTO NYA .

  © Blogger templates Newspaper III by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP